AIR laut yang menghangat dan berubah tingkat keasamannya karena pemanasan global telah menggoyahkan populasi terumbu karang. Kehilangan struktur pendukungnya, terumbu karang tidak bisa lagi menjadi tempat bernaung spesies-spesies ikan kecil dan ikan pelagis.
Hasil studi yang terbit di Journal of Animal Ecology memang menyatakan ikan masih berperilaku normal di bawah tekanan iklim. Tapi, kemampuan survivalnya drop ketika mereka kehilangan tempat berlindung dan jauh dari kelompok sosial.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Para ahli ekologi kelautan dari Adelaide University, Australia, meneliti pengaruh tersebut di perairan dekat pantai Jepang. Wilayah tersebut dinilai cocok sebagai tempat pengamatan terumbu karang yang terdampak perubahan iklim.
Satu lokasi mencerminkan kondisi terumbu karang saat ini dan berfungsi sebagai lokasi kontrol. Lokasi terumbu karang lainnya berada di lokasi yang suhu airnya sekitar satu derajat Celcius lebih hangat karena Arus Kuroshio.
Tim peneliti berfokus pada pengamatan spesies ikan kecil berwarna biru elektrik yang disebut Pomacentrus coelestis, juga dikenal sebagai ikan damselfish neon. Ikan-ikan ini hidup berkelompok, mencari makan dan bergerak bersama sambil mengawasi predator.
“Jika Anda mengamati terumbu karang cukup lama, Anda akan menyadari bahwa ikan hampir tidak pernah sendirian. Mereka bergerak dalam kelompok, mencari makan dalam kelompok, dan bereaksi terhadap bahaya sebagai sebuah kelompok,” kata penulis utama hasil studi itu, Angus Mitchell, dikutip dari laporan Earth, 25 Mei 2026.
Menurut peneliti, ikan yang berkumpul dalam suatu kelompok memberikan beberapa keuntungan untuk spesies ini bertahan hidup. Semakin banyak ikan berarti semakin banyak mata yang mengawasi ancaman dan semakin kecil kemungkinan satu ikan menjadi sasaran predator.
Antara 2021 dan 2024, para penyelam menggunakan kamera GoPro untuk mengamati perilaku ikan sistem terumbu karang tersebut. Studi ini mencakup periode kondisi normal dan gelombang panas laut yang intens, termasuk gelombang panas besar pada 2023 lalu.
Para peneliti mengukur tingkat pemberian makan, tingkat aktivitas, perilaku bersembunyi, dan seberapa dekat ikan berada di tempat berlindung. Mereka juga menguji jarak inisiasi pelarian, yang mengukur seberapa dekat ancaman dapat mendekat sebelum ikan melarikan diri.
Tim tersebut juga menghitung populasi ikan, mengambil sampel plankton, dan mengukur ketinggian vegetasi terumbu karang untuk memahami kompleksitas habitat. “Ikan dalam kelompok yang lebih besar cenderung lebih berani. Mereka mencari makan dengan lebih efisien, lebih sering berada di tempat terbuka, dan menghabiskan lebih sedikit waktu untuk bersembunyi,” kata Mitchell.
















































