Tren Wellness Naik, Pantau Stres Lewat AI di Kursi Pijat

2 hours ago 7

KESADARAN masyarakat terhadap kesehatan kini tidak lagi berhenti pada olahraga dan pola makan. Di tengah ritme hidup yang semakin cepat dan tekanan pekerjaan yang meningkat, perhatian mulai bergeser pada pentingnya pemulihan tubuh serta kualitas istirahat sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Brand & Operation Manager Indonesia untuk OSIM, Raynaldo Hasan, menilai pemahaman masyarakat mengenai konsep wellness masih perlu diperluas. Selama ini, banyak orang sudah menyadari pentingnya berolahraga, tetapi belum memahami bahwa tubuh juga membutuhkan fase pemulihan setelah aktivitas fisik.

“Orang tahu olahraga itu penting, tetapi sering kali tidak menyadari bahwa setelah berolahraga otot menjadi tegang dan tubuh membutuhkan relaksasi. Banyak yang selesai olahraga lalu mandi dan langsung tidur. Padahal, akan lebih baik jika tubuh direlaksasi terlebih dahulu sehingga kualitas tidurnya bisa meningkat,” kata Raynaldo saat memperkenalkan OSIM uDream.AI kepada Tempo pada April lalu.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menurut dia, relaksasi seharusnya dipandang sebagai bagian dari rangkaian menjaga kesehatan, bukan sekadar aktivitas tambahan. Salah satu cara yang mulai banyak digunakan adalah memanfaatkan teknologi wellness, termasuk kursi pijat yang dirancang untuk membantu tubuh melepas ketegangan setelah beraktivitas.

Raynaldo mengatakan kesadaran mengenai teknologi kebugaran semacam ini mulai tumbuh di Indonesia, meski masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia seperti Jepang dan Singapura. “Di negara-negara tersebut, kesadaran soal wellness sudah lebih tinggi. Di Indonesia, kami masih perlu banyak mengedukasi bahwa menjaga kesehatan bukan hanya soal olahraga, tetapi juga bagaimana tubuh dapat pulih dan beristirahat dengan baik,” ujarnya.

Peluncuran kursi pijat OSIM uDream.AI di Jakarta April 2026.Tempo/Mitra Tarigan

Pandangan itu sejalan dengan sejumlah penelitian mengenai manfaat relaksasi bagi kesehatan. Menurut National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH) Amerika Serikat, terapi pijat kerap digunakan untuk membantu meningkatkan kebugaran, mengurangi nyeri, serta mendukung relaksasi tubuh. Sementara itu, Mayo Clinic menyebut pijat dapat membantu meredakan stres, mengurangi ketegangan otot, dan meningkatkan kualitas istirahat.

AI untuk Membaca Tingkat Stres

Perkembangan teknologi juga mulai merambah dunia relaksasi. Salah satunya melalui penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memantau kondisi tubuh pengguna secara real-time. Teknologi tersebut memanfaatkan sistem photoplethysmography yang mampu membaca sejumlah indikator fisiologis melalui kamera, mulai dari detak jantung, laju pernapasan, tekanan darah, kadar oksigen dalam darah, hingga indeks stres.

Sebelum sesi pijat dimulai, sistem akan melakukan pemindaian singkat untuk mengidentifikasi kondisi tubuh pengguna. Hasil analisis tersebut kemudian digunakan untuk menyesuaikan program pijatan yang dianggap paling sesuai. Dengan pendekatan ini, relaksasi tidak lagi semata-mata berdasarkan pilihan pengguna, tetapi juga mempertimbangkan kondisi tubuh yang terdeteksi saat itu.

Menurut Raynaldo, salah satu tantangan dalam mengelola stres adalah banyak orang tidak menyadari tingkat stres yang sedang mereka alami. “Stres tidak bisa diukur hanya dari ekspresi wajah. Dengan bantuan teknologi, kita bisa mendapatkan gambaran kondisi tubuh dan memantaunya dari waktu ke waktu,” katanya.

Pengalaman Relaksasi yang Lebih Personal

Tempo sempat mencoba perangkat kursi pijat yang dilengkapi teknologi tersebut. Berbeda dari kursi pijat konvensional yang cenderung terbuka, desain kursi ini dibuat lebih tertutup sehingga menciptakan ruang yang lebih privat bagi pengguna.

Selain pijatan, pengalaman relaksasi didukung oleh pendekatan multisensori yang memadukan suara, visual, dan aroma. Musik diperdengarkan melalui speaker yang hanya terdengar jelas oleh pengguna, sementara layar menampilkan berbagai lanskap alam yang menenangkan. Aroma terapi juga ditambahkan untuk menciptakan suasana yang lebih nyaman.

Perangkat ini menyediakan hingga 30an pilihan program pijat dengan tingkat tekanan yang berbeda, mulai dari pijatan ringan untuk relaksasi hingga pijatan yang lebih kuat untuk membantu meredakan ketegangan otot. Ada pula pijatan rileks yang cocok untuk tidur. Dari semuanya, terdapat tiga teknik pijat utama yang menjadi inspirasi program pijat, yaitu Thai Massage, Japanese Shiatsu, dan Chinese Tui Na. Masing-masing menawarkan sensasi berbeda, mulai dari gerakan peregangan, tekanan pada titik-titik tertentu, hingga pijatan yang lebih dalam pada jaringan otot.

Saat mencoba ketiganya, Tempo merasakan perbedaan karakter yang cukup jelas. Teknik Thailand lebih banyak menghadirkan sensasi peregangan dan relaksasi. Shiatsu dari Jepang memberikan tekanan yang lebih terukur pada sejumlah titik tubuh. Adapun teknik pijat Tui Na asal Cina menghadirkan pijatan yang lebih kuat dan intens.

Meski demikian, Raynaldo menekankan bahwa perangkat semacam ini bukan untuk menggantikan pijat tradisional maupun aktivitas fisik. Menurut dia, teknologi tersebut lebih ditujukan sebagai sarana relaksasi yang dapat diakses kapan saja di rumah. “Tidak semua orang punya waktu untuk memanggil terapis atau pergi ke tempat pijat secara rutin. Karena itu, teknologi seperti ini hadir untuk memudahkan orang merawat tubuhnya sehari-hari,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental dan kualitas hidup, relaksasi perlahan mulai dipandang bukan lagi sebagai kemewahan, melainkan bagian dari kebutuhan. Bagi banyak ahli kesehatan, pemulihan tubuh yang baik berperan penting dalam mengurangi stres, memperbaiki kualitas tidur, membantu pemulihan otot setelah aktivitas fisik, serta menjaga kebugaran tubuh dalam jangka panjang.

Read Entire Article
Parenting |