PRESIDEN Cina Xi Jinping dijadwalkan akan melakukan kunjungan diplomatik Ke Korea Utara pada 8 hingga 9 Juni mendatang. Lawatan ke Pyongyang itu akan menjadi kunjungan pertama Xi sejak tujuh tahun terakhir.
Menurut laporan Anadolu, sejak dirinya menjabat sebagai presiden Cina, Xi pertama kali mengunjungi Korea Utara pada 2019. Pertemuan terakhir kedua pemimpin negara sosialis terjadi di Beijing, ketika Kim Jong Un menghadiri parade militer untuk memperingati ulang tahun ke-80 hari Kemenangan Cina.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Kunjungan yang diumumkan pada Jumat, 5 Juni 2026, dipandang sebagai upaya Cina mempererat kembali hubungan dengan mitranya setelah sempat renggang sejak pandemi Covid-19. Kendati, Cina merupakan satu-satunya sekutu resmi Korea Utara, dalam beberapa tahun terakhir Pyongyang justru semakin mesra dengan Moskow.
Meskipun, hubungan bilateral antara Pyongyang dan Moskow semakin dekat, Beijing tetap merupakan mitra terpenting. Menurut data statistik 2022 dari Komite Nasional untuk Korea Utara yang dikutip dari Al Jazeera,seluruh aktivitas perekonomian Korea Utara sangat bergantung kepada Cina.
Data itu menunjukkan, bahwa Cina merupakan mitra dagang utama Korea Utara karena 95 persen dari total perdagangan dan 85 persen aktivitas ekspornya ke pasar Cina.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi melakukan misi diplomatik ke Korea Utara pada bulan April. Ia mengatakan kedua negara harus meningkatkan koordinasi dalam isu-isu internasional dan regional serta menjalin komunikasi juga interaksi yang erat.
Salah satu persoalan yang menjadi kekhawatiran Cina adalah tentang daya gentar Korea Utara perihal kepemilikan senjata nuklir. Korea utara sedang merencanakan program perluasan persenjataan negara secara eksponensial.
Salah satu peneliti dari lembaga kajian Korea Institute for National Unification (KINU), Hong Min mengatakan kepada AFP, dikutip dari Al Jazeera, Cina perlu mengawasi program nuklir Korea Utara yang berkembang pesat. Karena di masa lalu Korea Selatan meminta Cina memainkan peran konstruktif untuk memastikan perdamaian dan stabilitas kawasan.
“Aspek ini perlu dikelola, jika Korea Utara bertindak secara provokatif dan agresif, hal itu dapat memicu konflik regional yang dapat bertentangan dengan kepentingan nasional Cina,” kata Hong.

















































