Dari Arsip ke Asisten Pengetahuan: Tempo Memakai AI untuk Menghidupkan Kembali Warisan Jurnalistiknya

5 hours ago 7

INFO TEMPO - Selama lebih dari lima dekade, Tempo membangun salah satu arsip jurnalistik terbesar di Indonesia. Sejak pertama kali terbit pada 1971, ribuan laporan investigasi, artikel berita, foto, video, audio, infografik, hingga dokumen pendukung liputan telah dihasilkan dan tersimpan dalam berbagai format.

Namun di era digital, tantangan yang dihadapi bukan lagi sekadar menghasilkan konten. Yang semakin penting adalah bagaimana memastikan seluruh kekayaan arsip tersebut dapat ditemukan kembali, dikelola secara aman, dan dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan redaksi maupun pembaca yang terus berubah.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Untuk menjawab itu, Tempo tengah mengembangkan dua inisiatif teknologi utama, yakni Digital Asset Management (DAM) dan Tempo Assistant, chatbot berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk membuka akses baru terhadap arsip jurnalistik Tempo.

Bagi Tempo, kedua proyek ini bukan sekadar adopsi teknologi terbaru. Keduanya merupakan bagian dari upaya membangun fondasi baru agar warisan jurnalistik yang telah dikumpulkan selama puluhan tahun tetap relevan di tengah perubahan cara masyarakat mengkonsumsi informasi.

Upaya tersebut juga membawa Tempo ke panggung internasional. Setelah bersaing dengan ratusan media dari berbagai negara, Tempo terpilih sebagai salah satu penerbit dari sebelas negara dalam JournalismAI Innovation Challenge, program yang didukung Google News Initiative untuk mendorong inovasi pemanfaatan kecerdasan buatan di industri media.

Senior Product Manager sekaligus Person in Charge (PIC) proyek ini, Gregorio Vincent Wijaya, mengatakan kebutuhan akan DAM muncul dari besarnya volume aset yang dimiliki Tempo dan kebutuhan untuk menyatukannya dalam satu sistem terpusat. “Tempo mempunyai urgensi untuk menyelaraskan semua aset sejak 1971 ke satu platform sebagai single source of truth untuk meningkatkan efisiensi waktu dan efektivitas hasil kerja redaksi,” kata Vincent.

Selama bertahun-tahun, aset editorial tersimpan dalam berbagai sistem, format, dan media penyimpanan yang berbeda. Sebagian berasal dari era analog yang kemudian didigitalisasi, sementara sebagian lainnya lahir dalam ekosistem digital yang terus berkembang.

Deputy Chief Technology Officer Tempo, Rianda Zulhamjani, menjelaskan bahwa DAM dikembangkan untuk memastikan aset-aset tersebut tidak hanya tersimpan sebagai dokumentasi, tetapi juga dapat ditemukan dan digunakan kembali secara optimal. “Nilai arsip hanya bisa dimaksimalkan jika sistem pengelolaannya terpusat, rapi, dan dapat dicari berdasarkan konteks,” ujarnya.

Melalui DAM, foto, artikel, video, audio, infografik, dokumen investigasi, naskah, hingga arsip edisi cetak yang telah didigitalisasi akan dikelola dalam satu sistem. Setiap aset akan dilengkapi metadata sehingga dapat ditemukan melalui pencarian yang lebih cerdas.

Chief Technology Officer Tempo, Heru Tjatur, mengatakan sistem tersebut dirancang menggunakan pendekatan pencarian kontekstual. Dengan pendekatan ini, pengguna tidak hanya mencari berdasarkan kata kunci sederhana, tetapi juga berdasarkan hubungan antarperistiwa, tokoh, lokasi, dan waktu.

Seorang jurnalis, misalnya, tidak hanya dapat mencari “Jokowi”, tetapi juga menemukan foto atau dokumen terkait kunjungan presiden ke daerah konflik pada periode tertentu tanpa harus menelusuri arsip secara manual.

Ilustrasi Tempo Assistant. Dok. TEMPO

Di balik sistem tersebut, kecerdasan buatan digunakan untuk membantu proses pengayaan metadata, pengenalan entitas, transkripsi audio dan video, serta analisis visual. Namun keputusan editorial tetap berada di tangan manusia. “AI digunakan untuk membantu pencarian dan pengelolaan aset, bukan mengambil keputusan jurnalistik,” kata Heru.

Pengembangan DAM sendiri mulai dirancang pada 2025 dan memasuki tahap pengembangan teknis pada awal 2026. Saat ini implementasi dilakukan secara bertahap di berbagai unit kerja dengan fokus pada migrasi aset prioritas dan penataan metadata.

Tempo menargetkan sistem ini dapat memangkas berbagai pekerjaan repetitif yang selama ini menyita waktu redaksi, mulai dari pencarian foto arsip hingga penelusuran referensi liputan lama. Dengan proses yang lebih efisien, redaksi dapat memusatkan perhatian pada pekerjaan jurnalistik yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Di saat yang sama, Tempo juga melihat perubahan besar dalam perilaku pembaca. Jika sebelumnya pembaca mengakses informasi dengan membaca artikel satu per satu, kini mereka semakin terbiasa mencari jawaban secara langsung, cepat, dan interaktif. Perubahan pola konsumsi informasi inilah yang melatarbelakangi pengembangan Tempo Assistant.


(Dari kiri) Chief Technology Officer Tempo Heru Tjatur, Deputy Chief Technology Officer Tempo Rianda Zulhamjani, dan Senior Product Manager Gregorio Vincent Wijaya. Dok. TEMPO

Menurut Vincent, pembaca saat ini tidak hanya ingin membaca berita, tetapi juga memahami konteks dan memperoleh jawaban spesifik atas pertanyaan mereka. Tempo Assistant dirancang untuk menjadi antarmuka baru yang memungkinkan pembaca berinteraksi dengan arsip dan konten jurnalistik Tempo secara lebih natural.

Melalui chatbot ini, pembaca dapat memperoleh ringkasan berita harian, rangkuman isu mingguan, digest ekonomi dan bisnis, hingga mengajukan pertanyaan mengenai topik tertentu yang pernah diliput Tempo.

Misalnya, pembaca dapat menanyakan perkembangan kebijakan suku bunga Bank Indonesia sepanjang tahun berjalan atau menelusuri liputan Tempo mengenai isu tertentu dalam beberapa tahun terakhir. Sistem kemudian akan menyusun jawaban berdasarkan artikel-artikel yang relevan dan mengarahkan pembaca ke sumber aslinya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Tempo memanfaatkan teknologi large language model (LLM). Namun penggunaan AI dilakukan dengan pendekatan yang ketat. Vincent menjelaskan bahwa Tempo menerapkan metode Retrieval-Augmented Generation (RAG) yang dilengkapi dengan sistem keamanan, di mana model AI hanya menyusun jawaban berdasarkan artikel dan arsip yang tersedia dalam basis data Tempo.

Dengan pendekatan ini, chatbot tidak diperbolehkan menciptakan fakta baru atau menjawab berdasarkan asumsi. “Setiap jawaban faktual harus bisa ditelusuri ke sumbernya,” kata Rianda. Karena itu, setiap respons akan dilengkapi tautan menuju artikel yang menjadi dasar jawaban. Jika sistem tidak menemukan sumber yang memadai, chatbot akan menyatakan bahwa informasi tersebut tidak tersedia dalam arsip Tempo, alih-alih menghasilkan jawaban yang berpotensi menyesatkan.

Bagi Tempo, keberhasilan kedua proyek ini tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi yang digunakan. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut mampu memperkuat jurnalisme dan menciptakan nilai baru bagi organisasi.

Di tengah tekanan bisnis media digital dan dominasi platform teknologi global, arsip jurnalistik yang kredibel menjadi salah satu aset pembeda yang sulit ditiru. DAM membuka peluang pemanfaatan kembali arsip untuk berbagai kebutuhan editorial maupun bisnis, sementara chatbot menghadirkan cara baru bagi pembaca untuk berinteraksi dengan konten Tempo.

Tampilan Tempo Digital Asset Management (DAM). Dok. TEMPO

Dalam jangka pendek, Tempo menargetkan penyelesaian migrasi aset prioritas ke dalam DAM serta peluncuran versi beta Tempo Assistant yang dapat menjawab pertanyaan pembaca berdasarkan arsip terverifikasi.

Dalam jangka panjang, DAM diharapkan berkembang menjadi fondasi knowledge graph yang mampu menghubungkan tokoh, peristiwa, lokasi, dokumen, dan isu lintas periode liputan. Sementara Tempo Assistant diproyeksikan menjadi gerbang baru bagi pembaca untuk mengakses pengetahuan jurnalistik secara lebih personal dan kontekstual.

Bahkan setelah periode proyek berakhir, pengembangan kedua sistem tersebut akan terus dilanjutkan. Jika terbukti stabil dan efektif, Tempo melihat peluang untuk memperluas pemanfaatan teknologi pengelolaan arsip digital kepada media lain, institusi pendidikan, maupun organisasi yang memiliki kebutuhan serupa.

Melalui DAM dan Tempo Assistant, Tempo mencoba menunjukkan bahwa kecerdasan buatan tidak harus diposisikan sebagai pengganti jurnalis. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi infrastruktur yang membantu menjaga, menghidupkan kembali, dan memperluas manfaat warisan jurnalistik yang telah dibangun selama lebih dari setengah abad. (*)

Read Entire Article
Parenting |