Ini Sebab BRIN Kembangkan Inovasi Reaktor Penangkap Karbon

2 hours ago 5

TIM periset dari Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), tengah mengembangkan inovasi reaktor penangkap karbon dioksida (CO) berbasis cairan. Desain reaktor ini dirancang bersifat fleksibel sebagai upaya menekan emisi karbon dari sektor industri dan pembangkit energi berbasis fosil.

Asep Rachmat, Perekayasa Ahli Madya PRTKE BRIN sekaligus ketua tim riset mengatakan teknologi ini penting untuk dikembangkan mengingat riset mengenai sistem penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) yang dirancang khusus untuk karakteristik gas buang industri domestik masih terbatas. Saat ini Indonesia masih bergantung pada teknologi impor.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Inovasi yang dikembangkan mengusung konsep desain modular, yang memungkinkan unit-unit reaktor dibangun secara terpisah. Kemudian dirangkai sesuai kebutuhan kapasitas maupun keterbatasan lahan di fasilitas industri,” ujar Asep melalui keterangan tertulis pada Rabu, 8 April 2026.

Reaktor penangkap CO berbasis cairan ini diproyeksi terintegrasi dengan instalasi yang telah beroperasi tanpa memerlukan perubahan besar. Desain tersebut juga membuka peluang pengembangan sistem hibrida yang mampu menggabungkan berbagai mekanisme penyerapan CO. “Selain itu juga mendorong penggunaan cairan penyerap alternatif yang lebih ramah lingkungan,” kata Asep.

Reaktor ini, menurut Asep, bekerja selayaknya penyaring canggih yang memanfaatkan interaksi antara gas dan cairan. Gas buang industri yang mengandung CO dialirkan dari bagian bawah reaktor. Alirannya bergerak ke atas dan bertemu dengan cairan penyerap yang dialirkan dari bagian atas. Pada titik pertemuan tersebut terjadi proses penyerapan, ketika CO “ditangkap” oleh cairan sehingga gas yang dilepaskan ke atmosfer memiliki kandungan karbon yang jauh lebih rendah.

Riset ihwal reaktor baru ini merupakan bagian dari program Energi Berkelanjutan dengan skema pendanaan tahun jamak. Pada tahap awal 2025, tim berfokus pada pembuatan purwarupa skala laboratorium untuk unit absorber sebagai komponen utama penangkap CO. “Ke depan, teknologi ini ditargetkan dapat diuji coba pada skala industri pada 2029,” tutur Asep.

Dalam pengerjaan purwarupa, BRIN berkolaborasi dengan PT Eksperta Adi Manusa dan Universitas Indonesia. Lembaga riset negara ini juga menggandeng tim peneliti lintas keahlian, masing-masing bernama Donny Triana, Arief Surachman, Mahi Ghiyast Arroqi, Tata Sutardi, Rendi Januardi, Esti Mega Maulidayanti, Desi Kurniawati, Chairunnisa, Topan Frans Saputra, Yusuf Ahda, Muhammad Penta Helios, Ilham Arnif, dan Sri Wijayanti.

Melalui pengembangan teknologi reaktor modular penangkap CO ini, Asep meneruskan, BRIN mendorong transformasi industri nasional menuju sistem produksi yang lebih bersih dan berkelanjutan. “Kami berharap juga inovasi ini dapat memberikan kontribusi nyata menjaga kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang,” kata dia.

Read Entire Article
Parenting |