Bukan Hanya El Nino, Laut Terkepung Sejumlah Fenomena Panas

1 day ago 5

PENELITI iklim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, mengatakan El Nino bukan satu-satunya sinyal perkembangan suhu permukaan lautan Samudra Pasifik belakangan ini, terutama pada April hingga awal Juni 2026. Pemanasan lapisan bawah permukaan laut alias subsurface warming tahun ini, yang menurut Erma mirip kondisi El Nino 1997, datang bersamaan dengan fenomena iklim lain.

Selain pemanasan bawah permukaan, perairan Pasifik juga sedang dilanda pergerakan cepat Gelombang Kelvin, sebutan untuk penjalaran massa dan energi dari arah barat menuju timur wilayah ekuator. “Berdasarkan evolusi waktunya, dorongan dari gelombang Kelvin membuat perubahan iklim yang lebih cepat dibanding kondisi pada umumnya,” kata Erma pada Tempo, Senin, 1 Juni 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Situasi El Nino juga bertumpuk dengan Blob, fenomena panas ekstrem di laut (marine heatwave) yang digambarkan sebagai “gumpalan” di area tertentu. Area panas ekstrem itu sedang terkonsentrasi di dekat wilayah selatan Amerika. Lokasinya berbeda dengan titik terkuat El Nino yang saat ini terdeteksi di Pasifik timur dekat Peru.

Berbeda dengan situasi El Nino pada 1997, Erma menyebut lonjakan Blob justru ada di tengah El Nino 2015. Dengan kata lain, Bumi sedang menghadapi kondisi iklim yang mirip dengan dua periode silam sekaligus. “Yang terjadi pada 2026 ini bukan hanya single, tapi multi-phenomenon. Ada El Nino yang intensitasnya menguat secara cepat, diperparah pergerakan gelombang Kelvin dan Blob.”

Selain soal peningkatan suhu, Erma menyebut radius perairan yang mengalami pemanasan juga meluas ke arah utara. Pola ini pernah terjadi pada 2015. "Pemanasan global, sekitar 1–2 derajat Celcius, juga berpotensi menjadi faktor yang bisa memperparah El Nino,” tutur dia.

Dalam Laporan Premium Tempo: Apa yang Memicu Super El Nino, Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan kekuatan El Nino tidak dipengaruhi satu faktor tunggal. "Banyak sekali faktor yang berperan,” katanya kepada Tempo.

Karena kombinasi sejumlah anomali iklim, intensitas El Nino yang masih berindeks lemah pada saat ini berpotensi meningkat menjadi kuat, bahkan menuju level Super El Nino. Peneliti dari State Key Laboratory of Satellite Ocean Environment Dynamics dan beberapa lembaga di Cina belakangan menyoroti anomali suhu permukaan laut yang terjadi serentak di tiga zona terpisah: Pasifik barat dekat Indonesia, Pasifik timur laut dekat Amerika Tengah, serta Pasifik tenggara (dekat Amerika Selatan).

Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Widodo Setiyo Nugroho, mengatakan gejolak suhu di ketiga lokasi membentuk "cincin hangat". Luasnya melingkupi zona sentral yang seharusnya lebih dingin. “Pola yang belum pernah teramati sekuat ini dalam 40 tahun terakhir,” kata dia.

Read Entire Article
Parenting |