MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan dinamika geopolitik global yang semakin kompleks memberikan tekanan baru terhadap sistem ekonomi internasional, mulai dari ketahanan rantai pasok hingga stabilitas perdagangan dan investasi. Airlangga menegaskan komitmen Indonesia untuk memperluas kerja sama ekonomi internasional melalui sejumlah perjanjian perdagangan.
Dalam sesi Ministerial Keynote and Conversation pada Brussels Economic Security Forum (BESF) 2026 di Brussel, Belgia, Airlangga menilai perubahan arsitektur ekonomi global perlu direspons melalui penguatan kerja sama dan diversifikasi, bukan pemisahan ekonomi antarnegara.
"Arsitektur ekonomi internasional saat ini jelas sedang mengalami perubahan. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana kita dapat membangun kembali framework yang mampu mempertahankan manfaat keterbukaan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi," kata Airlangga dalam keterangan resmi, Sabtu, 6 Juni 2026.
Menurut dia, berbagai konflik geopolitik, termasuk yang terjadi di kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah, menunjukkan bahwa gangguan keamanan dapat mempengaruhi rantai pasok, investasi, dan pertumbuhan ekonomi dunia. Kondisi tersebut, kata Airlangga, mendorong sejumlah negara menerapkan berbagai kebijakan untuk memperkuat keamanan ekonomi, seperti kebijakan industri, penyaringan investasi, dan pengendalian ekspor.
Dalam forum yang dihadiri pejabat Uni Eropa, pemerintah negara mitra, pelaku usaha, dan media internasional itu, Airlangga memaparkan strategi Indonesia dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Ia juga menyampaikan perkembangan kerja sama ekonomi Indonesia dengan Uni Eropa, termasuk proses penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU CEPA).
Airlangga mengatakan Indonesia tetap mampu menjaga kinerja ekonomi di tengah ketidakpastian global. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year), dengan inflasi yang tetap terkendali, cadangan devisa yang kuat, serta surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung lebih dari 70 bulan berturut-turut.
Pemerintah, kata dia, juga terus mendorong transformasi ekonomi melalui program penghiliran industri, pengembangan sektor manufaktur, transformasi digital, dan ekonomi hijau. Indonesia juga berupaya memperkuat posisinya dalam rantai pasok global, termasuk pada sektor kendaraan listrik, baterai, mineral kritis, dan energi terbarukan.
Menurut Airlangga, Indonesia telah menarik investasi dari berbagai kawasan untuk pengembangan industri kendaraan listrik, mulai dari produksi baterai hingga perakitan kendaraan. Ia menilai perkembangan tersebut dapat mendukung diversifikasi rantai pasok energi bersih global.
Selain itu, pemerintah terus mengembangkan ekonomi digital dan memperkuat ketahanan energi melalui pemanfaatan energi terbarukan serta implementasi program biodiesel B50. Kebijakan tersebut diperkirakan dapat mengurangi impor bahan bakar hingga 4 juta kiloliter per tahun.
Dalam kesempatan yang sama, Airlangga menegaskan komitmen Indonesia untuk memperluas kerja sama ekonomi internasional melalui sejumlah perjanjian perdagangan, antara lain IEU CEPA, Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA), serta proses aksesi ke Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).
Airlangga juga menyoroti posisi Indonesia sebagai anggota ASEAN, G20, dan BRICS yang dinilainya dapat berperan sebagai jembatan antara negara maju dan negara berkembang dalam menghadapi tantangan ekonomi global.














































