TEMUAN baru dari inti sedimen di dasar Laut Atlantik belakangan mengubah pencatatan soal suhu di lautan tersebut. Suhu di permukaan samudra tersebut masih datar, namun peneliti menemukan sinyal kimia dalam lumpur purba yang menyimpan informasi kondisi laut masa lalu.
Dari dimen tersebut, merujuk ulasan Earth pada 3 Juni 2026, peneliti bisa mengetahui proses perubahan suhu air pada kedalaman sekitar 800 meter selama 11.000 tahun terakhir. Hal yang ditunjukkan lapisan-lapisan tersebut ternyata tidak sesuai dengan apa yang terjadi di permukaan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Syee Weldeab, profesor ilmu kebumian di University of California sempat mengambil salah satu rangkaian sedimen tersebut dari Atlantik ekuatorial dan merekonstruksi suhu air pada kedalaman sekitar setengah mil. Dia mendapati bahwa sekitar 5.700 tahun lalu, air di kedalaman Atlantik tropis menghangat sekitar 5 derajat Celsius. Pemanasan itu berlangsung selama ribuan tahun dan mencapai puncaknya sekitar 2.500 tahun lalu.
Petunjuknya tersimpan di dalam lumpur dasar laut. Lapisan-lapisan sedimen laut terbentuk perlahan selama ribuan tahun, kemudian terus bertambah dalam bentuk lembaran tipis. Cangkang-cangkang kecil yang terperangkap di dalam sedimen itu menyimpan rekaman kimia suhu air pada masanya.
Bagian yang paling aneh adalah keheningan di atasnya. Tidak ada jejak panas di permukaan, meski ada panas tinggi tersebut. “Saya sangat terkejut dengan temuan ini sehingga sempat menyimpan datanya untuk beberapa waktu,” kata Weldeab.
Panas tersebut, menurut Weldeab, kemungkinan datang dari tempat lain dan entah bagaimana menyusup tanpa meninggalkan jejak di atas. Temuan ini mengisyaratkan adanya jalur pengantaran panas yang sebelumnya belum berhasil dirangkai oleh para ilmuwan, terutama untuk kawasan Atlantik.
Samudra dalam menyimpan energi dalam jumlah yang luar biasa besar. Antara 1970 hingga 2020, lautan menyerap hampir 90 persen kelebihan panas akibat perubahan iklim yang disebabkan manusia, sehingga atmosfer terhindar dari dampak yang jauh lebih buruk. “Studi ini mengungkap bahwa bagian dalam samudra bertindak sebagai reservoir penyimpanan panas yang sangat besar,” tutur Weldeab.
Sejumlah penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa sebagian besar panas yang tersimpan itu tidak bertahan di dekat permukaan. Lapisan air menengah—zona kedalaman menengah yang sama dengan yang diteliti Weldeab—ternyata menyimpan sebagian besar panas yang baru-baru ini diserap samudra.
Waktu terjadinya pemanasan itu memberikan petunjuk nyata pertama. Pemanasan di kedalaman Atlantik tropis diketahui ketika pergerakan udara dan air bergerak di Belahan Bumi Selatan berubah, padahal jarak antara kedua lokasi terpaut ribuan mil.
Ketika wilayah selatan Bumi mendapat sinar Matahari musim panas, pola sirkulasi di bagian bawah planet ini diperkirakan terus berubah. Perubahan ini melibatkan tiupan sabuk angin baratan yang sangat kuat yang mulai bergeser ke arah Kutub Selatan.
Inilah angin yang sama yang menggerakkan arus laut di Samudra Selatan. Ketika angin tersebut bergeser, menurut Weldeab, air di bawahnya ikut merespons. Kini Weldeab kerupaya memetakan seberapa jauh pemanasan purba tersebut menyebar ke seluruh samudra dunia. Peneliti masih mendalami keanehan lokal tersebut, kalau-kalau ini bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.
















































