Edwin Temukan Kesenangan Baru di Dapur

10 hours ago 7

SUTRADARA peraih Piala Citra, Edwin, memiliki cara unik untuk melepas penat dari rutinitas dunia perfilman. Di tengah kesibukannya menggarap proyek-proyek layar lebar, ia mengaku sedang gandrung menekuni hobi memasak.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Hobi ini lahir bukan karena keinginan menjadi koki profesional, melainkan sebagai bentuk gangguan yang menyehatkan. Sutradara film Monster Pabrik Rambut ini mengungkapkan bahwa dapur telah menjadi kegiatan yang menyenangkan selain melihat lensa kamera.

Distraksi Positif Sejak Pandemi

Hobi memasak Edwin bermula saat pandemi Covid-19 melanda. Keterbatasan ruang gerak dan keinginan untuk mengonsumsi makanan sehat tanpa bergantung pada pesanan berani memicu kreativitasnya di dapur. Menurutnya, memasak sendiri memberikan kepuasan psikologis karena ia tahu bahan apa saja yang masuk ke dalam tubuhnya.

"Repot kalau harus beli-beli (makanan) online terus. Ternyata kita bisa makan yang sederhana dan sehat, enggak terlalu banyak minyak dan bumbu, tapi tetap enak," ujar Edwin kepada Tempo pada Rabu, 7 Mei 2026.

Bagi Edwin, memasak bukan sekadar menyiapkan makanan, tetapi juga proses eksperimen. Ia memulai dari hal yang paling mendasar, yakni mengulik cara membuat telur mata sapi yang sempurna. Ia berhasil menciptakan telur yang tidak lengket di wajan namun tetap memiliki tekstur buttery tanpa penggunaan minyak berlebih.

Eksperimen Daging dan Buku Inspirasi

Tak hanya telur, Edwin mulai merambah ke pengolahan daging sapi. Rasa penasarannya membawa ia pada literatur mengenai potongan daging. Salah satu inspirasi terbesarnya justru datang dari karya sastra, yakni novel Raden Mandasia si Pencuri Daging karya Yusi Avianto Pareanom.

"Di buku itu dijelaskan bagian-bagian sapi yang enak apa saja dengan sangat bagus dan tidak teknis. Saya terinspirasi betapa kita pelan-pelan pengin tahu apa yang kita makan, diternaknya kayak bagaimana," katanya.

Sutradara Edwin ketika melakukan kunjungan promosi film terbaru mereka, Monster Pabrik Rambut, ke kantor Tempo, Jakarta, 7 Mei 2026. Tempo/Fardi Bestari

Meski mengaku bukan tipe yang fanatik terhadap daging impor mahal, Edwin gemar bereksperimen dengan teknik memanggangnya. Ia menemukan bahwa membakar daging menggunakan arang memberikan aroma dan rasa yang jauh berbeda dibandingkan kompor biasa.

Ia juga sempat menjajal kemampuannya membuat yogurt sendiri di rumah dengan proses fermentasi selama 20 jam untuk mendapatkan kekentalan yang pas. Proses ini membutuhkan kesabaran ekstra karena melibatkan kontrol suhu yang stabil selama belasan jam.

"Tinggal dipanaskan, didiamkan dengan suhu stabil, habis itu penyaringan pakai kain. Rasanya puas banget kalau sudah jadi," ungkapnya. Bagi Edwin, membuat stok yogurt sendiri jauh lebih praktis daripada harus membelinya secara rutin setiap dua hari sekali.

Candu Koleksi Alat Masak

Edwin mengakui mulai terjebak dalam dunia peralatan dapur, mulai dari pisau khusus hingga panci stainless steel. Ia merasa setiap alat memiliki fungsi spesifik yang mendukung kualitas masakannya. Lucunya, ia sempat menceritakan pengalaman apes saat baru saja membeli spatula silikon baru.

"Saya beli yang silikon buat ganti yang lama. Baru beli, eh diambil sama anjing saya. Dikunyah-kunyah, dikira tulang atau mainan mungkin," ucapnya sambil tertawa.

Meskipun mulai mengoleksi alat memasak, Edwin tetap realistis. Baginya, alat masak yang mahal bukanlah penentu kelezatan utama, melainkan teknik dan rasa ingin tahu yang terus diasah.

Menghargai Kompleksitas Bumbu Nusantara

Bagian paling menarik dari petualangan kuliner Edwin adalah rasa hormat sekaligus rasa ngerinya terhadap masakan Nusantara. Meski sudah mulai mahir dengan teknik grill dan fermentasi sederhana, Edwin mengakui bahwa masakan Indonesia berada di tingkat kesulitan yang berbeda.

Bagi Edwin, kompleksitas bumbu dalam kuliner lokal adalah sebuah mahakarya yang menuntut ketelatenan tinggi. Ia melihat perbedaan mencolok antara masakan Barat yang cenderung lugas dengan masakan Indonesia yang bumbunya berlapis-lapis. Hal inilah yang membuatnya masih "maju-mundur" untuk mencoba resep tradisional tertentu.

"Pengin coba bikin rawon, tapi repot kayaknya kalau rawon. Kompleks dan banyak banget bumbunya," katanya sembari mengakui bahwa butuh keberanian lebih untuk menaklukkan kluwek dan rempah-rempah lainnya.

ANDARA ANGESTI

Read Entire Article
Parenting |