Purbaya Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen

2 hours ago 9

KEMENTERIAN Keuangan mengumumkan asumsi dasar ekonomi makro dinamis dalam rentang optimistis. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan perekonomian Indonesia pada 2026 tumbuh 5,4 persen.

Hingga kuartal I 2026, pertumbuhan ekonomi tercatat mencapai 5,61 persen, lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi 2025, sebesar 5,11 persen secara tahunan. “Ini kita lihat asumsi ekonomi makro. Pertumbuhan ekonomi 5,4. Terakhir 5,61. Rupiah sampai sekarang adalah year to date 17.057, itu aktualnya rata-rata ya, (asumsi) APBN-nya 16.500,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta pada Jumat, 5 Juni 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Inflasi pada 2026 ditargetkan sebesar 2,5 persen. Namun hingga Mei 2026, inflasi tercatat mencapai 3,08 persen. Angka itu sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi inflasi sepanjang 2025 yang sebesar 2,92 persen.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dipatok dalam APBN 2026 sebesar Rp 16.500 per dolar AS. Hingga 3 Juni 2026, kurs tengah Bank Indonesia tercatat berada di level Rp 17.057 per dolar AS secara year to date dan Rp 17.863 per dolar AS.

Sementara itu, imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar 6,9 persen. Hingga 26 Mei 2026, yield SBN tercatat sebesar 6,48 persen secara year to date dan 6,67 persen pada akhir periode pengamatan.

Untuk komoditas energi, harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN 2026 diasumsikan sebesar US$ 70 per barel. Namun realisasinya hingga Mei 2026 mencapai US$ 91,9 per barel. Adapun lifting minyak dipatok 610 ribu barel per hari, sementara realisasi hingga Februari 2026 baru mencapai 535,8 ribu barel per hari.

Di sisi lain, lifting gas ditargetkan sebesar 984 ribu barel setara minyak per hari pada 2026. Hingga Februari 2026, realisasinya mencapai 957,9 ribu barel setara minyak per hari.

Purbaya menyebut pertumbuhan ekonomi yang tinggi ditopang oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, serta akselerasi belanja pemerintah. Inflasi dinilai tetap terkendali seiring penurunan harga pangan bergejolak (volatile food) dan harga yang diatur pemerintah (administered prices), didukung kebijakan harga energi dan pangan untuk menjaga daya beli masyarakat.

Adapun pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi faktor geopolitik dan arah kebijakan moneter global. Pergerakan yield SBN juga dipengaruhi dinamika global, meskipun level dan volatilitasnya masih dapat dijaga.

Kenaikan harga minyak dunia dipengaruhi gangguan rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah serta perkembangan kebijakan internasional. Sedangkan optimalisasi lifting minyak dan gas terus dilakukan di tengah kondisi pasar komoditas yang masih bergejolak.

Read Entire Article
Parenting |