KEPALA Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menyarakan lima strategi yang dapat ditempuh pemerintah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah telah menembus level psikologis baru yaitu Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada Jumat pagi, 5 Juni 2026, nilai tukar rupiah berada di level Rp 18.031 per dolar AS.
Fakhrul mengatakan, meski Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin, tapi stabilisasi rupiah tidak dapat bergantung pada kebijakan moneter semata. “Penguatan rupiah membutuhkan kombinasi antara kebijakan fiskal, pasar keuangan yang sehat, strategi neraca pembayaran yang jelas, dan kepercayaan investor yang kuat," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat, 5 Juni 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Strategi pertama, kata Fakhrul, adalah normalisasi fiskal. Ia menilai pemerintah perlu melakukan normalisasi fiskal secara bertahap agar beban stabilisasi ekonomi tidak sepenuhnya ditanggung oleh Bank Indonesia dan nilai tukar. Dalam konteks itu, ia memandang pemerintah perlu mengevaluasi berbagai program prioritas, termasuk Makan Bergizi Gratis.
Kedua, menormalisasi kurva yield atau imbal hasil obligasi Indonesia. Menurut Fakhrul, kondisi kurva imbal hasil Indonesia saat ini masih terlalu datar dan belum mencerminkan struktur risiko yang lazim ditemukan pada negara berkembang. “Bagi investor global, kondisi tersebut menciptakan pertanyaan mengenai fungsi pasar dan proses pembentukan harga aset di Indonesia," katanya.
Ketiga, mengurangi ketergantungan terhadap instrumen sterilisasi. Fakhrul menuturkan, instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) berhasil membantu stabilisasi pasar dalam periode volatilitas tinggi. Namun dalam jangka panjang, pasar membutuhkan mekanisme yang lebih alami agar dana dapat kembali mengalir ke pasar obligasi maupun sektor produktif.
Keempat, Fakhrul menganjurkan pemerintah untuk memberikan kepastian strategi neraca pembayaran. Sebab, saat ini investor sedang memperhatikan arah strategi neraca pembayaran Indonesia. Dalam hal ini, ia menyebutkan kejelasan implementasi PT Danantara Sumberdaya Indonesia menjadi penting.
Strategi kelima adalah membangun kembali kepercayaan pasar melalui komunikasi kebijakan yang konsisten dan terkoordinasi. "Pasar bisa menerima kebijakan yang sulit. Pasar juga bisa menerima kebijakan yang tidak populer, tetapi pasar sangat sulit menerima ketidakpastian," ucap Fakhrul.
















































