ATLET tunggal putra Jonatan Christie memenangi duel sesama wakil Indonesia melawan Alwi Farhan pada babak 16 besar Indonesia Open 2026 di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis malam, 4 Juni 2026. Dalam pertandingan yang berlangsung selama 1 jam 15 menit, Jonatan menang melalui rubber game dengan skor 17-21, 21-17, 21-16.
Kemenangan itu mengantarkan Jonatan ke babak perempat final. Menurut pemain yang kini menempati peringkat kelima dunia tersebut, pengalaman menjadi faktor penting yang membantunya keluar dari tekanan saat menghadapi permainan agresif Alwi. "Saya banyak melewati fase-fase seperti pertandingan tadi. Jadi ada pengalaman untuk tahu bagaimana menyikapi kondisi seperti itu," kata Jonatan seusai pertandingan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Alwi tampil lebih agresif sejak awal laga dan mampu merebut gim pertama dengan skor 21-17. Jonatan kemudian bangkit pada gim kedua dan menyamakan kedudukan setelah menang 21-17.
Pertandingan mencapai puncaknya pada gim ketiga. Kedua pemain terlibat duel ketat hingga skor imbang 16-16. Namun, Jonatan mampu memanfaatkan pengalaman dan ketenangannya untuk merebut lima poin beruntun sekaligus mengakhiri pertandingan dengan kemenangan 21-16.
Jonatan menilai Alwi sedang berada dalam fase perkembangan yang positif sebagai pemain muda. Ia berharap juniornya itu dapat memetik pelajaran dari pertandingan tersebut untuk meningkatkan kualitas permainannya di masa depan. "Saya berharap Alwi bisa belajar dari pertandingan ini. Saat ada momen seperti tadi, dia bisa tahu harus melakukan apa. Pengalaman seperti ini akan sangat berguna untuk perkembangannya," ujar pemain berusia 28 tahun itu.
Pebulu tangkis tunggal putra, Alwi Farhan (kiri), menjelaskan kelebihan Jonatan Christie setelah ia dikalahkan di 16 besar Indonesia Open 2026 di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis malam, 4 Juni 2026. Jonatan mengalahkan alwi dalam tiga gim dan lolos perempat final. TEMPO/Ihsan Reliubun.
Sementara itu, Alwi mengakui dirinya terlalu bernafsu menyerang sepanjang pertandingan. Ia menilai bola-bola yang diberikan Jonatan terlihat mengundang untuk diserang, tetapi pertahanan lawannya ternyata sangat solid. "Jujur, nafsu banget. Kelihatannya bolanya Jonatan enak buat diserang, tapi ternyata defense-nya rapat banget sehingga menguras banyak tenaga saya," kata Alwi.
Menurut Alwi, kekuatan utama Jonatan bukan hanya kualitas teknik, melainkan kemauan untuk terus bertahan dan tidak mudah menyerah dalam reli-reli panjang. "Kekuatan terbesar Koh Jo memang daya juangnya. Tadi sama-sama mau bertahan dan sama-sama tidak mau mati sendiri. Battle-nya benar-benar terasa," ujarnya.
Meski harus tersingkir di babak 16 besar, Alwi menilai pertandingan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi dirinya. Ia belajar pentingnya mengelola emosi, strategi, dan tenaga dalam pertandingan level atas. "Saya belajar bagaimana menyikapi saat unggul atau tertinggal, tetap tenang, dan mencari cara untuk menang. Pertandingan tadi membuka mata saya dan memberi pengalaman baru yang akan membuat saya lebih kuat ke depannya," kata Alwi.
Alwi juga enggan membahas kelemahan Jonatan. Sebaliknya, ia berharap seniornya itu mampu melangkah lebih jauh dan meraih gelar juara di hadapan publik sendiri. "Harapannya semoga Koh Jonatan bisa menjadi juara di sini," ujarnya.
Jonatan pun memuji perkembangan Alwi yang dinilainya memiliki daya juang, semangat, dan kepercayaan diri tinggi. Menurut dia, modal tersebut sangat penting untuk membawa pemain muda Indonesia bersaing di level dunia. "Modalnya sangat bagus untuk ke depannya. Tinggal terus belajar membaca permainan dan mengatur strategi. Saya yakin dengan dukungan pelatih dan tim, Alwi, Ubed, dan pemain muda lainnya bisa berada di level atas," kata Jonatan.















































