Kata Purbaya soal Kurs Rupiah Jeblok ke 18.000 per Dolar AS

3 hours ago 6

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) saat ini. Pelemahan rupiah tersebut, kata dia, akan berdampak pada meningkatnya besaran utang yang harus dibayar pemerintah.

Purbaya menyebutkan kupon surat utang atau imbal hasil yang dibayar pemerintah berupa fixed rate atau konstan. “Ini masih dalam range perhitungan kami yang sebelumnya saya sebutkan,” ujarnya ketika ditemui di Gedung DPR pada Kamis, 4 Juni 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Bendahara Negara itu menjelaskan bahwa pemerintah sudah membuat simulasi perhitungan ketika harga minyak mentah naik. Sementara asumsi nilai tukar rupiah dalam APBN 2026 adalah Rp 16.500 per dolar AS.

Namun, Purbaya enggan membeberkan level rupiah yang dipakai dalam simulasi tersebut. “Penyesuaiannya cukup tinggi, tapi saya nggak sebutkan, nanti rupiah melemah signifikan. Tapi pada dasarnya fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang, lebih kuat dari yang sekarang,” tuturnya.

Mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan itu juga mengungkapkan bahwa Kementerian Keuangan telah mengucurkan Rp 8 triliun dalam operasi intervensi di pasar obligasi. Intervensi tersebut berupa pembelian kembali Surat Berharga Negara (SBN) yang dijual investor. Ia mengklaim intervensi ini telah menstabilkan yield SBN 10 tahun.

Adapun pada perdagangan Kamis pagi ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan 0,27 persen hingga menembus Rp 18.015 per dolar AS. Posisi tersebut menjadi salah satu level terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir, sekaligus menandai mata uang Garuda ke ambang psikologis baru Rp 18 ribu per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan ini mencerminkan kuatnya tekanan eksternal di tengah meningkatnya ketidakpastian global, ditambah sentimen domestik yang masih kurang kondusif. “Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah,” katanya, dikutip Antara.

Read Entire Article
Parenting |