SETELAH 18 tahun, Dewi Lestari alias Dee Lestari akhirnya akan merilis album penuh terbarunya bertajuk (Jangan) Jatuh Cinta pada Rabu, 10 Juni 2026. Bagi Dee, album tersebut bukan sekadar penanda kembalinya ia ke industri musik, tetapi juga menjadi perjalanan personal yang membantunya menemukan kembali semangat hidup setelah melewati masa-masa kehilangan dalam beberapa tahun terakhir.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut Dee, keinginan untuk kembali bermusik sebenarnya sudah muncul sejak lama. Namun, sejumlah keraguan membuat rencana tersebut terus tertunda, terutama karena ia merasa sudah cukup jauh dari perkembangan industri musik saat ini.
"Sebetulnya niatan untuk kembali bermusik itu sudah cukup lama. Tapi saya merasa sudah tidak kenal industri hari ini. Saya orang lama yang masih mengalami rekaman pakai pita, dengar lagu pakai kaset, jadi industri yang sekarang terasa sangat berbeda," ujar Dee di Jakarta pada Rabu, 3 Juni 2026.
Di tengah keinginan tersebut, ia harus menghadapi masa-masa berat setelah kehilangan dua sosok penting dalam hidupnya. "Empat tahun terakhir saya kehilangan dua pria utama dalam hidup saya, suami saya pada 2022 dan ayah saya setahun setelahnya," katanya.
Kehilangan tersebut membuat Dee merasa ada bagian dalam dirinya yang perlahan meredup. Meski tetap menjalani aktivitas sehari-hari, ia mengaku sempat kehilangan semangat yang selama ini menjadi sumber energinya dalam berkarya.
"Waktu ayah saya berpulang, saya merasa seperti ada yang mati di hati saya. Saya masih bisa berfungsi, tapi rasanya tidak ada api," tuturnya.
Di tengah kondisi tersebut, Dee justru menemukan kembali dirinya melalui aktivitas sederhana: bernyanyi seorang diri di rumah. Ia menyiapkan mikrofon, speaker, dan laptop di ruang tamu, lalu menyanyikan lagu-lagu yang disukainya seperti sedang berkaraoke.
"Di malam itu, saya merasakan seperti ada api yang menyala lagi di hati saya. Dari situ saya menyimpulkan bahwa ternyata menyanyi menyembuhkan saya," ujarnya.
Kebiasaan itu terus dilakukan selama berbulan-bulan hingga akhirnya membuatnya semakin yakin untuk kembali serius menggarap musik.
Berawal dari Percakapan Santai
Keputusan untuk membuat album baru semakin menguat setelah pertemuannya dengan Arie Dagienkz, Riko Prayitno, Bayu Fajar, dan tim yang kemudian ikut mendampingi proses kreatif album tersebut.
Awalnya, pertemuan mereka tidak membahas musik sama sekali. Namun dalam sebuah percakapan santai, Dagienkz terkejut mengetahui bahwa album terakhir Dee adalah Rectoverso yang dirilis hampir dua dekade lalu. "Dia bilang, 'Ini enggak benar. Enggak bisa kayak begini. Lu harus bikin album lagi'," kenang Dee.
Dua bulan setelah pertemuan tersebut, tim itu datang ke rumahnya dan menyatakan kesiapan untuk menggarap album baru bersama. Proses rekaman pun dimulai pada Oktober 2025.
Alih-alih menggunakan kumpulan lagu lama yang telah ia simpan sejak usia 20-an, Dee dan tim memutuskan untuk lebih banyak mengisi album dengan materi baru yang sesuai dengan fase hidupnya saat ini.
Bercerita tentang Perjalanan Hati
Album (Jangan) Jatuh Cinta berisi delapan lagu yang menurut Dee membentuk satu narasi utuh tentang perjalanan hati manusia. Ia menjelaskan bahwa judul album tersebut bukanlah sebuah larangan, melainkan peringatan tentang berbagai konsekuensi yang muncul ketika seseorang jatuh cinta.
"(Jangan) Jatuh Cinta itu sebenarnya sebuah peringatan. Tapi hati siapa yang bisa mengendalikan? Akhirnya jatuh juga, dan tujuh lagu berikutnya adalah akibat dari jatuh cinta itu," katanya sambil tersenyum.
Menurut Dee, setiap lagu memiliki posisi masing-masing dalam membangun cerita album, mulai dari fase jatuh cinta, patah hati, kehilangan, harapan baru, hingga penerimaan. Salah satu lagu yang memiliki makna khusus baginya adalah "Hujan Bulan Juni", yang terinspirasi dari puisi karya Sapardi Djoko Damono. Lagu tersebut awalnya dibuat untuk film berjudul sama pada 2017, namun tidak jadi digunakan dan akhirnya disimpan selama bertahun-tahun.
Sebelum lagu itu dirilis, Dee sempat meminta izin langsung kepada Sapardi. "Saya bilang kepada beliau, suatu hari nanti boleh enggak lagu ini saya rilis? Dan beliau menjawab, 'Dewi, lagu itu milik kamu. Puisi itu silakan dipakai'," kenangnya. Bagi Dee, lagu tersebut menjadi salah satu karya yang paling emosional dalam album karena Sapardi tidak sempat mendengarkan versi finalnya.
Selain itu, album ini juga menghadirkan lagu "Perahu Kertas" dalam versi baru. Lagu yang sebelumnya dipopulerkan oleh Maudy Ayunda itu dipilih sebagai satu-satunya lagu lama yang dimasukkan ke dalam album.
Berkarya Tanpa Beban Kompetisi
Dalam pengerjaan album ini, Dee menggandeng sejumlah musisi dan produser lintas generasi seperti Petra Sihombing, Mikha Angelo, Pandji Akbari, hingga Afgan. Meski bekerja bersama banyak musisi muda, Dee menegaskan bahwa langkah tersebut bukan dilakukan untuk mengikuti tren atau mengejar pasar tertentu.
Menurutnya, saat ini ia tidak lagi memandang musik sebagai ruang kompetisi, melainkan sebagai medium untuk bercerita. "Saya tidak berusaha berkompetisi dengan penyanyi perempuan lain, pencipta lagu lain, ataupun penulis lain. Saya selalu bilang, sejatinya saya seorang storyteller, seorang pencerita," ujarnya.
Ia merasa posisinya cukup unik karena selama ini dikenal sebagai penyanyi, pencipta lagu, sekaligus penulis. Ketiga peran tersebut, menurutnya, tidak perlu dipisahkan karena semuanya merupakan bagian dari identitas yang sama. "Media saya adalah musik dan buku. Jadi semuanya adalah ekspresi kebahagiaan dan kreativitas," katanya.
Bagi Dee, kesuksesan album ini tidak semata-mata diukur dari angka streaming atau viralitas di media sosial. Yang terpenting adalah karya tersebut dapat sampai kepada pendengar dan menyampaikan cerita yang ingin ia bagikan.
GHAEIZA KAY RASUFFI
















































