Indonesia dan Swiss Bakal Teken MoU Mineral Kritis

2 hours ago 8

INDONESIA dan Swiss bakal menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding) non-binding di sektor mineral dan logam pada 23 Juni 2026. "Kerja sama akan memperluas kemitraan kedua negara ke sektor bahan baku mineral kritis," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan resmi pada Rabu, 3 Juni 2026.

Airlangga mengungkapkan hal itu seusai bertemu dengan Presiden Konfederasi Swiss Guy Parmelin di sela-sela Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) OECD 2026 di Paris, Perancis, Rabu, 3 Juni 2026. Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas sejumlah agenda kerja sama ekonomi, termasuk dukungan Swiss terhadap proses aksesi Indonesia menjadi anggota OECD.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menurut Airlangga, Swiss menegaskan dukungannya terhadap proses aksesi Indonesia ke OECD. Dukungan tersebut diwujudkan antara lain melalui kontribusi dana sebesar 3 juta euro dan program kerja sama Swiss periode 2025–2028.

Ia menjelaskan program tersebut mencakup penguatan kapasitas dalam penerapan prinsip Perilaku Bisnis yang Bertanggung Jawab (Responsible Business Conduct) serta dukungan terhadap upaya Indonesia memenuhi berbagai instrumen hukum OECD.

Saat ini, kata Airlangga, pemerintah tengah membahas 240 instrumen hukum OECD yang tersebar dalam 32 bab bersama lebih dari 60 kementerian dan lembaga. Dalam pertemuan tersebut, Airlangga juga memaparkan reformasi badan usaha milik negara (BUMN) yang sedang dilakukan pemerintah. Menurut dia, pemerintah telah melakukan restrukturisasi dan pengurangan jumlah BUMN melalui berbagai langkah penataan aset.

Airlangga juga menyinggung pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara. Menurut dia, lembaga itu dibentuk untuk mengelola aset dan investasi, baik di dalam maupun luar negeri, serta tengah menjajaki penerbitan obligasi internasional guna menarik modal asing. Ia mengatakan Indonesia juga berencana bekerja sama dengan Swiss untuk mempelajari praktik tata kelola investasi yang diterapkan di negara tersebut.

Selain isu investasi, kedua negara membahas ketahanan energi dan pangan di tengah ketidakpastian geopolitik global, termasuk risiko gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah. Airlangga mengatakan Indonesia telah melakukan diversifikasi sumber impor minyak, sehingga ketergantungan terhadap satu negara pemasok dapat dikurangi.

Di sektor pangan, Airlangga mengklaim Indonesia telah mencapai swasembada pangan untuk menjaga stabilitas harga dalam jangka panjang. Ia juga menyebut Indonesia telah mengekspor pupuk ke sejumlah negara, termasuk Australia.

Pada sektor energi, Airlangga mengatakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bersama Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO) memperluas kerja sama melalui nota kesepahaman pengembangan smart grid dan teknologi penyimpanan baterai. Menurut dia, kerja sama tersebut ditujukan untuk mendukung pemanfaatan energi surya di Indonesia.

Read Entire Article
Parenting |