PEMERINTAH Iran mencurigai operasi militer Amerika Serikat di wilayahnya sebagai kedok untuk merebut uranium yang telah diperkaya. Dugaan ini mencuat setelah serangkaian bentrokan yang berkaitan dengan upaya penyelamatan personel militer AS yang jatuh di Iran.
Menurut laporan Anadolu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei, menyatakan terdapat banyak kejanggalan dalam operasi tersebut. Ia menyoroti ketidaksesuaian lokasi antara laporan keberadaan pilot AS di Iran barat daya dan titik operasi militer AS yang disebut terjadi di Isfahan, Iran tengah.
“Ada banyak ambiguitas terkait operasi tersebut,” kata Baghaei. Ia menambahkan, “Ini memunculkan kemungkinan bahwa operasi tersebut merupakan rencana tipu daya untuk mencuri uranium yang diperkaya, yang tidak bisa diabaikan.”
Dilansir Middle East Monitor, Baghaei juga membandingkan operasi ini dengan misi militer Amerika Serikat pada 1980 yang gagal menyelamatkan lebih dari 50 warga Amerika yang disandera setelah Revolusi Iran 1979.
Ketegangan Lama Soal Nuklir
Uranium yang diperkaya telah lama menjadi sumber ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Washington mencurigai Teheran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Iran berulang kali membantah tuduhan tersebut. Isu ini kembali mencuat seiring meningkatnya aktivitas militer kedua negara di wilayah Iran dalam beberapa hari terakhir.
Iran pada 2 April menyatakan telah menembak jatuh jet tempur AS di Provinsi Kohgiluyeh dan Boyer-Ahmad. Pejabat AS kemudian mengonfirmasi bahwa pesawat jenis F-15E jatuh di wilayah tersebut.
Satu awak pesawat berhasil diselamatkan, sementara satu lainnya sempat dinyatakan hilang. Media Iran melaporkan militer AS mengerahkan helikopter ke lokasi untuk mengevakuasi awak kedua. Namun, setidaknya dua helikopter dilaporkan menjadi sasaran serangan pasukan Iran selama operasi berlangsung.
Bentrokan Meluas hingga Isfahan
Bentrokan kemudian meluas hingga Provinsi Isfahan. Tim penyelamat AS yang berupaya mengevakuasi personel juga dilaporkan menjadi target serangan. Unit militer Iran mengklaim menghancurkan sejumlah aset AS, seperti pesawat operasi khusus HC-130, helikopter Black Hawk, dan beberapa drone.
Adapun Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pada Ahad bahwa pasukannya berhasil menyelamatkan kedua awak pesawat melalui dua misi pencarian dan penyelamatan yang terpisah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pesawat itu jatuh akibat rudal bahu dalam serangan yang ia sebut sebagai “serangan yang beruntung”. Ia juga menyatakan operasi penyelamatan sempat tertunda karena kekhawatiran bahwa sinyal radio pilot merupakan jebakan dari Iran. Sekitar 200 personel pasukan khusus dikerahkan dalam misi tersebut.















































